Juhari Masudi Bersyukur, Disaat Pandemi Covid 19, Bisa Raih Gelar Doktor PAI UID

Nurul KRedaksi - Senin | 14 September 2020 | WIB
Juhari Masudi Bersyukur, Disaat Pandemi Covid 19, Bisa Raih Gelar Doktor PAI UID
FOTO : PERNUSA / ISTIMEWA

Juhari Masudi Bersyukur, Disaat Pandemi Covid 19, Bisa Raih Gelar Doktor PAI Universitas Islam Jakarta

Universitas Islam Jakarta (UID) sebagai salah satu Lembaga Pendidikan Tinggi Islam tertua di Wilayah Kopertis III Jakarta, yang juga telah membuka program Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam, pada Sabtu 12 September 2020, kembali menggelar Sidang Senat Terbuka Universitas Islam Jakarta, Dalam agenda tunggal Sidang Promosi Doktor Pendidikan Agama Islam, dengan Promovendus Juhari Masudi, dan Penguji Desertasi yang diajukan untuk memenuhi sebagai syarat dalam memperoleh gelar doktor Ilmu Pendidikan Agama Islam, dan Penguji Gelar Doktor adalah Ketua Penguji juga Ketua Senat, Prof.Dr. Ir. H Raihan, M.Si (Rektor UIJ), Prof. Dr. H Dede Rosyada, MA. Prof. Dr. H Aziz Fachurozi,MA, Prof. Dr.H Aceng Rahmat,M.Pd dengan Promotor Prof. Dr. H Dedi Djubaedi, M.Ag dan Dr.H Sutardjo Atmowidjoyo,M.Pd.

Sidang Promosi Doktor PAI Universitas Islam Jakarta tersebut, digelar berbeda dengan sebelumnya, dimana panitia menerapkan secara ketat protocol Kesehatan pencegahan Pandemi Covid -19, dengan pendampingan oleh Tim Satgas Penangulangan Covid -19 Universitas Islam Jakarta, dimana penyelenggaraan digelar dengan tatap muka maupun Webinar, sehingga tidak semua Penguji hadir, namun juga menguji melalui daring, demikian juga undangan hanyalah keluarga Promovendus Juhari Masudi, sehingga keluarga dan sahabat bisa menyaksikan Ujian Promosi Doktor PAI UID tersebut, dengan menggunakan fasilitas Webinar. Seluruh Penguji, Promovendus serta undangan wajib melakukan aturan Protokol kesehatan, mulai dari Cuci Tangan, Tes Suhu tubuh hingga wajib memakai Masker.

Dalam Desertasi yang diajukan Juhari Masudi, dengan tema "Reformasi Pembelajaran Pancasila Berbasis Agama, Dengan Pendekatan Achievement Mativation Training (AMT)", dimana dalam penelitiannya, Juhari Masudi melihat bahwa penyatuan/penggabungan Pendidikan Pancasila dengan Kewarganegaraan, dalam pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tinggi, tidaklah efektif, sehingga harus dipisahkan.

Menurutnya penggabungan Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan bagi mahasiswa yang diberikan dalam satu semester dengan beban dua SKS, tidak sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran, yang mengakibatkan target pembelajaran tidak tercapai.

Yang kedua, metode pembelajaran yang diterapkan masih bersifat konvensional yang menyebabkan kebosanan dan tidak menarik bagi mahasiswa, serta ketiga, materi kewarganegaraan lebih didominasi dari pada materi Pancasila, hal ini tidak sesuai aturan. Sehingga dengan hasil penelitian ini, akan memberikan masukan pada pemerintah agar Pendidikan Pancasila dengan Pendidikan Kewarganegaraan tidak lagi digabungkan, dan Pembelajaran bisa lebih menyenangkan serta Pendidikan Pancasila bisa diberikan sesuai atauran, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012, tentang Pendidikan Tinggi, bahwa Pancasila adalah Mata Kuliah Umum Wajib (MKWU), ungkapnya.

Rektor Universitas Islam Jakarta, Prof Raihan, juga mengaku bersyukur Universitas Islam Jakarta hingga saat ini beberapa Mahasiswa S3 telah menyelesaikan program doktor (S3) Pendidikan Agama Islam, dan hari ini Promovendus Juhari Masudi mampu menyelesaikan studinya dengan baik, dan kita kukuhkan dengan menyandang gelar Doktor Juhari Masudi, semoga desertasinya dapat meningkatkan kualitas pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi di Indonesia.

Hasil Penelitian Dr Juhari Masudi sangat baik, dan menyentuh aspirasi masyarakat dan bangsa, dan menjawab permasalahan yang aktual diperbincangan, dimana saat ini ada yang mempermasalahkan idiologi Pancasila, ada permasalahan keinginan lain dari kelompok tertentu, disinilah perlunya penataan kembali pembelajaran Pancasila di Perguruan Tinggi, atau bahkan mulai dari pendidikan dasar dan menengah atas, hal tersebut memang harus menjadi pemikiran-pemikiran akademik, karena akan memberikan nilai pada seorang manusia, jatidiri manusia Indonesia yang memiliki nilai agama dan nilai kenegaraan, sehingga tidak ada lagi kata "Radikalisme", dan harus bisa memaknai Pancasila itu mulai dari sekolah.

Dan hari ini Dr Juhari Masudi telah memberikan aspirasi bagi kita, khususnya di Pendidikan tinggi untuk mempelajari Pancasila, yang digabungkan dengan nilai-nilai Agama maupun Budaya, sehingga diharapkan akan memberikan secercah harapan bagi kita semua, dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila serte pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membusankan bagi mahasiswa maupun peserta didik, dan bisa masuk dalam sanubari, tegas Prof Raihan. (Red).