Webiner Kebijakan Pangan Nasional Dalam Ketahanan Keamanan Digelar Program Pascasarjana UIJ dan UIM

Nurul KRedaksi - Rabu | 22 Juli 2020 | WIB
Webiner Kebijakan Pangan Nasional Dalam Ketahanan Keamanan Digelar Program Pascasarjana UIJ dan UIM
FOTO : PERNUSA / ISTIMEWA

Webiner Kebijakan Pangan Nasional Dalam Ketahanan Keamanan Digelar Program Pascasarjana UIJ dan UIM

Dalam menindaklanjuti Kerjasama Universitas Islam Jakarta (UIJ) bersama Universitas Islam Makassar (UIM) Sulawesi Selatan, pada Selasa 22 Juli 2020 Program Pasca Sarjana UIJ dan Pasca Sarjana UIM mengggelar Seminar Internasional, dengan menggunakan fasilitas Webiner zoom.

Tema yang diambil bertemakan “Kebijakan Pangan Nasional Dalam Ketahanan Keamanan”, dan Keynote Speaker, Rektor Universitas Islam Jakarta, Prof.Dr.Ir Raihan, M.Si, dan Rektor Universitas Islam Makassar, Dr Ir. Hj Majdah M, Zain, M.Si dengan pembicara Webiner, Ketua Umum HKTI, Jenderal TNI Dr. H Moeldoko, S.Ip, Staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Oman dan Yaman, Darmawan Suparno, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Prov Sulawesi Selatan, Dr. Hj Fitriani, MP, serta moderator Prof Dr H Muh Tahir Malik, M.Si Wakil Direktur/ Asisten I Pascasarjana UIM.

Asisten Direktur II Pascasarjana UIM DR Ir Helda Ibrahim MSi dalam meeting room Pascasarjana UIM dan UIJ, Selasa (21/7/2020) menjelaskan, bahwa Webinar internasional ini, sebagai implementasi dari MoU kerjasama antara UIM dan UIJ yang baru-baru ini disepakati, Webinar hari ini diikuti sekitar 500 peserta dari seluruh Indonesia, dari kalangan akademisi, praktisi dan khususnya mahasiswa pascasarjana dari UIM dan UIJ. Bisa juga disaksikan livenya melalui akun youtube dan facebook.

Webinar bertema “Kebijakan Pangan Nasional dalam Ketahanan Keamanan” ini juga diharapkan mampu merumuskan satu rekomendasi, strategis bagi kebijakan ketahanan pangan nasional menghadapi ancaman krisis pangan global karena wabah Covid-19, Pascasarjana UIM saat ini menyelenggarakan tiga program studi yang telah terakreditasi B, dua di antaranya pertanian yakni Agrobisnis dan Agroteknologi, paparnya.

Rektor Universitas Islam Makassar, Dr Ir. Hj Majdah M, Zain, M.Si dalam paparannya mengaku mendukung penuh program Swasembada Beras, dengan menyediakan sendiri bahan pangan untuk pemenuhan bangsa sendiri, dan UIM siap mencetak tenaga-tenaga ahli dibidang pertanian, Agrobisnis maupun Agroteknologi.

Indonesia memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah dan Sumber Daya Manusia yang luar biasa, untuk itu kebutuhan dalam negeri seyogyanya kita produksi sendiri, kebijakan pemerintah harus berpihak pada kemandirian peteni, anggaran bagaimana untuk mengelolah ribuan hektar lahan tidur, kita harus bisa memutar otak mengelola kekayaan alam, menuju ketahanan pangan, sehingga tema ini sangat tepat dalam menghadapi ketahanan pangan, dalam pendemi Covid 19 ini, Seminar Internasional ini diharapkan memberikan masukan dalam pengelolaan keberkahan Sumber Daya Alam Indonesia, saya yakin bangsa ini mampu menghadapinya, mari berdiskusi bagaimana potensi SDA dan SDM dikelola menuju ketahanan pangan, dan cita-cita kita bagaimana bukan saja menuju swasembada beras, namun menuju Swasembada Pangan, pintanya.

Dalam paparannya, Dr H Moeldoko menegaskan, bahwa saat ini terjadi penurunan lahan, dan pembukaan tidak sebanding dengan penurunan, maka perlu perluasan baru, seperti rencana akan dilakukan di Kalimantan Tengah, dan kebijakan pangan nasional tergantung dalam RPJMN, untuk pengembangan pangan lokal diharapkan terus dilakukan oleh masyarakat sendiri, dan juga dibutuhkan akses pangan harus dibenahi, seperti Bendungan dan Embung irigasi, yang telah diperbaiki Pemerintah.

Peningkatan produktivitas perlu dilakukan Korporasi, sehingga saat panen raya petani jangan terburu-buru menjual, namun harus dikeringkan dan dimasukkan gudang/lumbung padi, sehingga dijual saat harga bagus, namun kenyataannya petani telah menjual sebelum panen, atau pengijon, inilah yang membuat petani tidak memperoleh hasil yang baik.

Peta Ketahanan dan Kerawanan pangan juga harus diperhatikan, kita ambil contoh daerah Papua untuk lahan padi sangat kurang, juga di pulau-pulau kecil, namun kedepan dalam rangka ekstensifikasi pangan, diharapkan lahan semakin luas dalam mendukung ketahanan pangan nasional, sehingga tidak ada kesenjangan pangan ditingkat nasional.

Dampak Covid 19 sungguh luar biasa, karena memunculkan pengangguran serta krisis pangan karena daya beli terganggu, dimana disamping beras juga kedelai yang susah didapat, ini bisa mengganggu pengrajin Tahu Tempe, demikian juga Jagung masih impor, ini karena Jagung untuk bahan baku produksi pangan, berbeda antara jagung Impor maupun produk petani dalam negeri, untuk itu kita mendukung program Stimulus dan bantuan dari Pemerintah untuk petani, dan kita harus siap dengan kemungkinan jika terjadi hal terburuk dalam menghadapi dampak Covid 19, khususnya dibidang pertanian, pinta H Moeldoko.

Disamping itu petani juga harus mampu mengatasi kemungkinan cuaca buruk yang bisa mengganggu pertanian, semua pihak harus mampu menghadapi dan harus saling bantu, dan kami sangat menghargai dan mengucapkan terimakasih pada Rektor UIJ dan UIM yang telah berpartisipasi dalam membangun ketahanan pangan, sebagai kebutuhan dasar manusia, serta menyiapkan SDM Berkualitas, tambahnya.

Rektor Universitas Islam Jakarta, Prof.Dr.Ir Raihan, M.Si mengaku bersyukur dalam menghadapi Pandemi Covid 19 ini, Pemerintah bisa menyeimbangkan antara Kesehatan dengan Ekonomi, yaitu tidak melakukan lockdown, tetapi Pemberlakuan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga masyarakat tetap sehat, dan ekonomi masih berjalan, meskipun beberapa sektor industri mengalami hambatan. Dan dalam membangun Ketahanan pangan kita menghadapi tantangan berat, berupa tantangan alam, yaitu Cuaca yang tidak menentu, sebagaimana telah dijelasakan Dr. H Moeldoko, S.Ip, tadi, demikian juga masalah serta ekosistem alam, dengan banyaknya bencana alam, sehingga menyedot kebutuhan pangan di masyarakat. Masalah lain adalah Distribusi pangan, khususnya antar daerah, dan kita lihat Pemerintah sudah memperbaiki distribusi dengan pembangunan sarana transportasi darat, laut dan udara.

Tantangan lain untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional didalam Pandemi Covid 19, bersifat Multi Dimensi, dimana mencakup Aspek Ekonomi, Dimensi Sosial, Politik dan Lingkungan,dari data pemerintah, Ketersediaan pangan Juni hingga Agustus mungkin masih dibutuhkan tambahan impor, agar ketersediaan bisa tercukupi hingga Desember 2020.

Ada beberapa pemikiran perlunya kebijakan dalam mendukung pemenuhan kebijakan pemenuhan pangan, khususnya produksi pangan dalam negeri, sehingga perlu adanya upaya peningkatan produksi petani, kemudian pengaturan perdagangan pangan, menyangkut distribusi, serta perlunya ketegasan sangsi hukum dalam melindungi produk pertanian, disamping itu perlunya bantuan maupun subsidi bagi petani dalam negeri untuk mendukung peningkatan kwalitas maupun kwantitas produk pertanian.

Peran Perguruan Tinggi juga perlu ditingkatkan, khususnya dalam penelitian yang mampu menciptakan inovasi, dan mampu meningkatkan produksi, seperti menciptakan bibit-bibit unggul, pupuk organik maupun pestisida, yang mampu meningkatkan ketersediaan pangan secara berkelanjutan, Kondisi Pancemi Covid 19 ini hendaknya bisa menjadi momentum untuk merekonstuksikan kembali kebijakan peningkatan pangan di negara kita, baik dalam bidang kebijakan maupun Undang-Undang, yang memberikan perhatian khusus pada Petani, Nelayan dan Peternak, bagaimana bisa berjalan sebagaimana mestinya, pinta Prof Raihan. (Red).